Wanita Boleh Mengajar
Untuk memahami 1 Timotius 2:11-12, kita perlu melihat konteks sejarah, budaya, dan kondisi jemaat di Efesus. Surat 1 Timotius bukanlah tulisan yang berdiri sendiri, melainkan ditujukan kepada Timotius yang sedang menggembalakan jemaat di kota Efesus.
1. Latar belakang Kota Efesus
Efesus adalah salah satu kota terbesar di Kekaisaran Romawi pada abad pertama. Kota ini terkenal sebagai pusat:
Perdagangan internasional.
Pendidikan dan filsafat Yunani.
Penyembahan kepada dewi Artemis (Diana), salah satu dewi paling terkenal pada masa itu.
Kuil Artemis merupakan salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Kuno. Penyembahan Artemis melibatkan imam-imam perempuan dan berbagai praktik keagamaan yang memengaruhi kehidupan masyarakat Efesus.
2. Masalah yang sedang dihadapi jemaat
Dalam surat ini, Paulus berulang kali menyebut adanya:
Guru-guru palsu (1 Timotius 1:3-7).
Cerita-cerita dan silsilah yang tidak berguna.
Orang-orang yang mengajarkan hal-hal yang menyimpang.
Sebagian perempuan menjadi sasaran ajaran sesat (1 Timotius 5:13-15; 2 Timotius 3:6-7).
Kemungkinan besar, beberapa perempuan yang belum memiliki pengajaran Alkitab yang matang mulai menyebarkan ajaran yang salah.
Karena itu Paulus lebih dahulu berkata:
"Seorang perempuan harus belajar..." (1 Timotius 2:11)
Kalimat ini justru cukup progresif pada zamannya. Di banyak lingkungan Yahudi saat itu, perempuan sering kali tidak memperoleh pendidikan agama yang sama seperti laki-laki. Paulus justru memerintahkan agar mereka belajar, tetapi dengan sikap tenang dan mau diajar.
3. Arti kata Yunani
Ayat 12 berbunyi:
"Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar ataupun memerintah atas laki-laki."
Ada dua kata penting.
a. "Mengajar"
Kata Yunani: διδάσκειν (didaskein)
Artinya mengajar secara resmi sebagai pengajar doktrin jemaat.
b. "Memerintah"
Kata Yunani: αὐθεντεῖν (authentein)
Ini kata yang sangat jarang dipakai dalam Perjanjian Baru—hanya muncul satu kali.
Maknanya diperdebatkan:
menggunakan kuasa secara dominan,
menguasai,
bertindak otoriter,
mengambil alih otoritas dengan cara yang tidak semestinya.
Banyak ahli menilai Paulus tidak menggunakan kata Yunani yang biasa untuk "memimpin", melainkan kata yang bernuansa negatif.
4. Mengapa Paulus mengutip Adam dan Hawa?
Paulus melanjutkan:
"Karena Adam yang pertama dijadikan..."
Lalu ia menyebut Hawa yang tertipu.
Ada dua penafsiran utama:
Pandangan komplementarian
Paulus sedang menetapkan prinsip penciptaan.
Karena itu larangan tersebut berlaku untuk semua gereja.
Pandangan egalitarian
Paulus memakai kisah Hawa sebagai contoh bahwa orang yang belum diajar mudah tertipu.
Ini sesuai dengan kondisi jemaat Efesus yang sedang disusupi ajaran sesat.
5. Apakah Paulus melarang semua perempuan mengajar?
Jika dimaknai sebagai larangan mutlak, muncul pertanyaan karena Alkitab juga mencatat perempuan yang melayani secara aktif:
Priskila ikut mengajar Apolos (Kisah Para Rasul 18:26).
Debora memimpin Israel.
Filipus memiliki empat anak perempuan yang bernubuat (Kisah Para Rasul 21:9).
Dalam 1 Korintus 11:5 Paulus juga mengakui bahwa perempuan berdoa dan bernubuat di jemaat, dengan syarat tertentu.
Karena itu banyak penafsir menyimpulkan bahwa Paulus tidak sedang melarang semua bentuk pelayanan perempuan, tetapi berbicara mengenai pengajaran yang berkaitan dengan otoritas di jemaat atau menangani situasi khusus di Efesus.
Kesimpulan
Ada dua pandangan yang sama-sama berusaha setia kepada Alkitab:
Komplementarian: perempuan dapat melayani dalam banyak bidang, tetapi jabatan penatua/gembala dan pengajaran yang berotoritas kepada seluruh jemaat laki-laki dan perempuan dikhususkan bagi laki-laki.
Egalitarian: larangan dalam 1 Timotius 2 bersifat kontekstual, ditujukan untuk mengatasi masalah khusus di Efesus, sehingga perempuan yang dipanggil, memiliki karunia, dan memenuhi syarat dapat mengajar serta memimpin jemaat.
Apa pun pandangan yang dianut, semua sepakat bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan menurut gambar Allah (Kejadian 1:27), sama-sama menerima keselamatan di dalam Kristus (Galatia 3:28), dan sama-sama dipanggil untuk melayani sesuai karunia yang Tuhan berikan.
Komentar
Posting Komentar